Pendekatan study islam

NAMA : MIFTAKHUL NUR HAYATI
KELAS : PBS 2D
NIM : 175231159

Pendekatan Study Islam

Dr.H.M.Atho Mudzhar

Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007


PENDEKATAN STUDY ISLAM

Banyak orang yang mengkritik ketika seseorang melakukan penelitian tentang keagamaan. Selain itu, ada juga yang berpendapat bahwa antara ilmu, nilai, dan agama tidak berkaitan. Padahal ketika ditelusuri lebih detail ketiga hal tersebut saling berhubungan. Ilmu tanpa nilai tidak bermakna, sedangkan agama tanpa ilmu akan menjadi sia-sia.

Pada dasarnya ilmu terdiri dari 2 macam. Pertama ilmu kealaman dan yang kedua yaitu ilmu budaya. Ilmu kealaman merupakan ilmu pasti. Artinya, meskipun diteliti berulang kali hasilnya tetap sama. Contoh ilmu kealaman antara lain :fisika, kimia, biologi, dll. Sedangkan ilmu budaya merupakan ilmu yang tidak berulang namun memiliki keunikan tersendiri. Contohnya seperti budaya Kraton Yogyakarta yang unik bagi masyarakat Yogyakarta.

Namun antara kedua ilmu tersebut terdapat ilmu sosial. Ilmu sosial merupakan ilmu yang meneliti hal-hal yang tidak berulang namun penelitiannya dengan cara mengamati keterulangannya. Sebab itu, sebagian ilmuwan menetapkan bahwa ilmu sosial termasuk dalam ilmu kealaman. Syarat ilmu dapat dikategorikan dalam ilmu kealaman yaitu dapat diamati, dapat diukur, dan dapat dibuktikan.

Agama tergolong sebagai gejala sosial yang berprinsip pada konsep sosiologi agama. Konsep tersebut berisi tentang simbiosis mutualisme antara agama dengan masyarakat. Artinya masyarakat mempengaruhi agama begitu pula sebaliknya agama berpengaruh pada masyarakat. Namun, akhir-akhir ini bukan hubungan tersebut yang terjadi melainkan pengaruh agama terhadap tingkah laku masyarakat. Sedangkan ketika agama termasuk penelitian budaya, maka yang diteliti bukanlah hasil kreasi manusia melainkan tentang sejarah agama, alat ritus agama, dll.

Penelitian agama dengan penelitian keagamaan memiliki arti yang berbeda. Middleton berpendapat bahwa penelitian agama cenderung membahas tentang isi atau materi agama, seperti ritus, mitos, dan magik. Sedangkan penelitian keagamaan lebih membahas kepada sistem agama seperti sistem sosiologis, sistem organisasi, dll. Selain itu, Middleton berkata jika penelitian agama sasarannya sebagai doktrin, maka penelitian keagamaan sebagai gejala sosial.

Penelitian agama dengan penelitian keagamaan memiliki arti yang berbeda. Middleton berpendapat bahwa penelitian agama cenderung membahas tentang isi atau materi agama, seperti ritus, mitos, dan magik. Sedangkan penelitian keagamaan lebih membahas kepada sistem agama seperti sistem sosiologis, sistem organisasi, dll. Selain itu, Middleton berkata jika penelitian agama sasarannya sebagai doktrin, maka penelitian keagamaan sebagai gejala sosial.

Selain itu, agama juga menjadi sasaran penelitian sosial. Penelitian sosial masih menjadi perdebatan tentang termasuk golongan ilmu kealaman atau ilmu budaya. Kaum Strukturalis berpegang pada ilmu budaya. Hal itu dikarenakan hasil pengamatan mereka terhadap tingkah laku yang mengarah pada aturan yang berasal dari nilai-nilai. Pendapat itu ditentang oleh sekelompok kaum yang disebut Kaum Positivis. Kaum positivis meyakini bahwa ilmu sosial tergolong ilmu kealaman. Alasannya, karena untuk mengerti masyarakat harus dengan mengamati sehingga dapat dilihat, diukur, dan dibuktikan.

Sebagian ilmuwan memiliki pendapat yang berbeda-beda sesuai apa yang mereka simpulkan. Ada sebagian yang berpendapat bahwa dalam melakukan penelitian diperlukan data. Data tersebut berguna sebagai acuan dalam penelitian sehingga peneliti dapat membuktikan benar atau tidaknya data yang telah diperoleh sebelumnya. Sedangkan ilmuwan lainnya berpendapat bahwa teori dalam penelitian tidak begitu dibutuhkan. Hal itu karena mereka memiliki prinsip bahwa penelitianlah yang seharusnya menghasilkan teori. Ketika membawa data saat proses penelitian maka hasilnya kurang maksimal karena cenderung sesuai dengan data yang dibawa.

Dalam melaksanakan misinya, para ilmuwan biasa memakai metode grounded research. Metode tersebut merupakan metode yang bertujuan untuk menghasilkan teori dari data yang telah didapat dengan cara sistematik dengan memanfaatkan metode analisis komparatif konstan. Sistematik artinya data yang didapat sejalan dengan aturan dan prosedur grounded research. Sedangkan analisis komparatif maksudnya selalu menganalisis dan membandingkan  setiap kategori yang ada. Kelebihan grounded research yaitu data yang didapat lebih detail karena langsung dianalisis. Sedangkan kelemahan metode ini terjadi ketika peneliti tidak bisa menentukan waktu untuk berhentinya penelitian.

Perbedaan agama sebagai gejala budaya dan gejala sosial berpengaruh terhadap desain penelitian agama. Desain penelitian agama memiliki dua jenis. Pertama, desain penelitian agama sebagai gejala budaya. Pada penelitian desain jenis ini, terdapat 4 hal yang perlu diperhatikan. Keempat hal tersebut antara lain mengenai perumusan masalah, arti pentingnya sebuah penelitian, metode yang dipakai untuk menjawab pertanyaan penelitian, dan mengenai studi literatur (telaah pustaka) tentang masalah yang terkait.

Jenis desain kedua yaitu desain penelitian agama sebagai gejala sosial. Pada desain penelitian ini, permasalahan yang ada harus lebih komplek dan lebih sistematik dibandingkan dengan agama sebagai gejala budaya. Dalam melakukan penelitian, harus memperhatikan metodologi dalam segi pengukuran (setuju atau tidaknya). Selain itu juga perlu dibentuk indeks. Indeks yaitu bagian cara melihat data, informasi, dan cara memperlakukan hasil pengukuran yang telah diteliti. Sedangkan jawaban dari indeks yang telah dirundingkan menjadi satu jawaban disebut collapsed. Kelemahan dari penelitian ini hanya fokus pada satu titik sehingga tidak dapat dipercaya dalam waktu yang lama.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer