Mari Mengetahui Kehidupan Santri
NAMA : MIFTAKHUL NUR HAYATI
KELAS : PBS 2D
NIM : 175231159
NYANTRI DI PONDOK CEPER
Perjalan saya dalam mencari pondok sangat melelahkan. Minggu pertama setelah pemberitahuan live-in, teman kelompok saya langsung mencari ke Wonogiri untuk mencari pondok pesantren. Tepatnya pada hari Minggu tanggal 4 Maret 2018. Namun saat pencarian pertama saya tidak ikut karena tidak ada sepeda motor. Saat di Wonogiri, kelompok saya sudah menemukan pondok pesantren. Setelah itu, menemui ustadnya yang bernama Ustad Arif untuk mengutarakan maksud kedatangan kelompok saya. Bapaknya bilang, kalau bapaknya pribadi memperbolehkan tinggal disini, namun tetap harus menunggu keputusan pengurus pondok lainnya. Setelah itu sebelum pamit pulang, kelompok saya meminta nomor telepon agar konfirmasinya lebih mudah.
Lima hari setelahnya kami belum mendapatkan konfirmasi. Kelompok kami mulai resah dan khawatir. Akhirnya, di hari Jum'at tanggal 9 Maret kami memutuskan untuk mencari pondok lagi di daerah Klaten. Karena kami tidak punya pandangan pondok mana yang akan kami kunjungi, akhirnya kami mencari pondok lewat google. Setelah itu, kami melakukan perjalanan ke Pondok Pesantren Candi Barokah di daerah Gantiwarno, Klaten dengan berbekal google maps.
Setelah perjalanan sekitar 75 menit, kami kesasar ke sebuah desa terpencil yang sangat sepi. Karena bingung, akhirnya saya dan teman saya menghampiri sebuah toko untuk bertanya tentang pondok yang kami maksud. Ibu yang kami tanyai menjawab kalau disini tidak ada pondok. Mendengar itu, kelompok kami kaget karena kami melakukan perjalanan sudah sesuai petunjuk maps. Setelah itu kami benar-benar merasa frustasi. Untuk menenangkan diri, akhirnya kami memutuskan mampir ke Mushola terdekat untuk sholat ashar terlebih dahulu.
Kami berhenti di mushola desa tersebut. Sesampainya di mushola, kami sedikit takut karena suasananya terlalu sepi. Musholanya lumayan kotor seperti tidak terawat. Masjid bagian dalam dikunci tapi untungnya teman saya ada yang membawa mukena, jadi tidak begitu khawatir. Kamar mandinya ada 2 namun pintunya tutupan semua. Melihat situasinya yang seperti itu, kami sedikit ragu bahkan saya sempat berfikir bahwa airnya pasti tidak mengalir. Namun setelah dicek alhamdullillah keran airnya mengalir jadi bisa untuk berwudhu. Setelah itu, kami bergantian mukena untuk Sholat Ashar di teras masjid.
Waktu telah menunjukkan jam 4 lebih. Karena sudah terlalu sore kami semakin bingung. Selain itu, hp kami batunya hampir habis semua, yang satu sudah mati, punya saya tinggal 23%, dan hp kedua teman saya yang lainnya tinggal 35% dan 60%. Parahnya lagi kami tidak ada yang membawa charger. Kami semakin bingung, resah, serta khawatir. Karena kami sudah frustasi, akhirnya kami menghubungi teman sekelas kami yang rumahnya di Klaten.
Pertolongan Allah kembali kami rasakan. Teman yang kami hubungi ternyata sedang online, jadi dia cepat merespon whatsapp kami. Setelah itu, kami memintanya untuk men-share location. Namun karena di desa tersebut sinyalnya putus putus, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke jalan raya terlebih dahulu. Disana kami mencari sinyal sambil menunggu balasan whatsapp teman kami. Setelah dia men-share location, kami menuju rumahnya dengan bantuan aplikasi waze.
Kami menuju rumah teman kami yang berada di desa Jatinom. Kami sampai disana sekitar jam setengah 6 sore. Disana, kami istirahat sebentar sambil men-charge hp kami dan menunggu untuk sholat maghrib. Setelah itu, kami mencari pondok di daerah tersebut dengan dibantu teman kami. Pertama, kami pergi ke pondok pesantren yang berada di daerah tersebut. Disana, kami bertemu dengan bapak ustadnya yang bernama Bapak Lanjar. Kemudian kami mengutarakan maksud dari kedatangan kami.
Bapak Lanjar sebenarnya memperbolehkan, namun untuk lebih lanjutnya kami disuruh berbincang-bincang dengan istrinya. Kami menunggu beberapa saat, karena waktu itu Bu Lanjar sedang mengajar Al-Qur'an. setelah berbincang-bincang dengan Bu Lanjar, ternyata pondok tersebut khusus untuk Al-Qur'an dan tidak ada kitabnya. Namun meskipun begitu, Ibu Lanjar menyarankan kami untuk pergi ke cabang yang ada dibagian utara yang masih satu-kesatuan dibawah naungan yang sama. Bapak Lanjar pun juga menyarankan demikian. Bapak Lanjar juga memberitahukan kalau ada pondok pesantren lainnya yang ada Quran dan Kitab di desa sebelah yang dipimpin oleh Gus Zudi.
Setalah itu, kami tidak jadi pergi ke pondok kitab yang berada di bagian utara. Hal tersebut dikarenakan santri putra lebih dominan dibandingkan dengan santri putrinya yang kurang lebih ada 5 santri putri. Akhirnya, kami melanjutkan perjalanan menuju pondok pesantren yang dipimpin Gus Zudi seperti arahan yang diberikan Bapak Lanjar. Waktu itu sekitar jam 7 lebih 20 menit, jalan pedesaan begitu gelap dan sepi. Karena takut salah jalan, akhirnya teman saya tadi pergi ke rumah temannya terlebih dahulu untuk ikut mengantarkan kelompok kami.
Alhamdullillah temannya dan juga bapaknya menyetujui untuk ikut mengantarkan kami. Akhirnya kami diantarkan ke pondoknya Gus Zudi. Jalannya sepi sekali, samping-samping jalan terdapat banyak pepohonan. Hal tersebut sebenarnya menambah kesan horor bagi saya, namun saya berusaha positif thingking dan kembali fokus menyetir. Di tengah perjalanan, saya kaget karena bertemu dengan salah satu teman sekelas kami lainnya yang mondok di Klaten. Mengetahui itu saya berhenti sebentar, saya bertanya kepadanya untuk memastikan apakah dia mondok di tempat Gus Zudi?. Sebenarnya dia tidak mondok di tempat Gus Zudi, namun dia memberitahukan bahwa tempatnya Gus Zudi sudah ada kelompok lain yang menempati.
Kemudian kelompok kami berhenti di sekitar pondok pesantrennya Gus Zudi. Saya memberitahukan kepada kelompok saya bahwa pondoknya Gus Zudi sudah di tempati kelompok lain. Kami kembali kecewa dan akhirnya memutuskan untuk pulang karena waktu yang semakin malam. Sebelum pulang ke kos, kami mampir ke warung makan terlebih dahulu untuk mengisi perut kami yang lapar sejak tadi sore. Sekitar setengah jam kami melepas lelah lalu kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju kos masing-masing.
Di hari selanjutnya, tepatnya hari Sabtu tanggal 10 Maret 2018, kelompok kami mencoba me-whatsapp Pak Ustad Amin (Wonogiri). Kami menanyakan bagaimana keputusannya. Whatsapp sudah dibaca namun tidak di balas. Akhirnya kami kembali berunding untuk mencari pondok lagi. Pada pencarian ketiga, saya tidak ikut karena jam TOSE saya sesuai jadwal sedangkan teman-taman kelompok saya jam TOSE nya pada dimajukan jadi mereka bisa pulang lebih cepat.
Di pencarian ketiga, kelompok saya langsung pergi ke Pondok Pesantren Roudhotus Sholihat yang berada di Ceper,Klaten. Kami mengetahui pondok tersebut dari kakak tingkat semester 4 jurusan Perbankan Syariah. Disana, kelompok saya mengutarakan maksud kedatangannya. Alhamdullillah mereka bersedia menerima kami untuk menginap di pondok pesantrennya. Akhirnya kelompok saya memutuskan untuk menginap langsung tepat di hari Minggunya.
Di hari Minggu pagi, tanggal 11 Maret 2018 tepatnya pukul 9 lebih 40 menit kami berkumpul di kosnya salah satu kelompok kami. Setelah dirasa sudah lengkap, kami memulai perjalanan menuju Pondok Roudhotus Sholihat. Perjalanan sekitar 1 jam untuk sampai disana. Awalnya kami salah jalan, lalu kami pun bertanya kepada penduduk sekitar. Setelah diberi pengarahan akhirnya kami menuju sesuai yang diarahkan bapak tersebut.
Kami sampai disana pukul 10 lebih 40menit. Sesampainya di gerbang pondok, kami mengetuk gerbang tersebut. Tidak lama kami menunggu, ada seorang pengurus yang membukakan gerbang. Setelah itu kami menyampaikan bahwa kami adalah Mahasiswa IAIN Surakarta yang kemarin datang kesini. Kemudian kami dipersilakan masuk oleh pengurus tersebut. Awalnya saya mengira kalau nantinya akan tidur bersama santri putri, namun ternyata perkiraan saya salah. Setelah masuk pondok, kami langsung ditunjukkan kamar khusus untuk kami selama tinggal di pondok tersebut.
Pondok Roudhotus Sholihat terdiri dari 24 santri. Dengan fasilitas kamar tidur sebanyak 4 kamar. 3 kamar untuk santri umum dan yang 1 kamar untuk pengurus. Meliliki sebuah aula, yang biasa digunakan ketika menerima tamu. Memiliki 6 kamar mandi dan memiliki 3 buah keran yang berada di luar kamar mandi. Memiliki lantai atas yang digunakan sebagai Mushola serta bagian belakang mushola yang dipakai untuk tempat menjemur pakaian. Terdapat sebuah rak piring yang berada di bawah tangga. Selain itu, juga terdapat garasi yang lumayan luas sebagai tempat penyimpanan sepeda para santri.
Pondok Roudhotus Sholihat didirikan oleh Bapak H.M. Nawawi Syafi'i. Beliau lahir di Klaten, 8 Agustus 1965, sehingga saat ini beliau berusia 53 tahun. Istrinya bernama H.Titin Sulistyaningsih. Beliau lahir di Klaten, tanggal 24 Januari 1963, dan sekarang berusia 65 tahun. Bapak Kyai Nawawi memiliki 4 orang anak. Anak pertamanya bernama Muhammad Aminullah,S.Sos. Lahir pada tanggal 1 Juli 1990 dan saat ini berumur 28 tahun. Anak kedua bernama Kunti Sholihah, S.Sos aluni dan sekarang sedang menempuh S2. Beliau seorang hafidzoh. Beliau lahir pada tanggal 7 Januari 1992. Anak ketiga bernama Muhammad Ainun Najib, umur 24 tahun sekarang masih di pondok pesantren Lirboyo, Jawa Timur. Dan anak yang terakhir bernama Musithoh Qoirul Bariyah. Lahir pada tanggal 30 Oktober 1999 sehingga saat ini masih berusia 19 tahun.
Rencana dibangunnya Pondok Roudhotus Sholihat pada awal tahun 2007. Sehingga pada tahun tersebut mulai dibangun asrama putri. Dahulu tempat tersebut merupakan tempat kerja yang akhirnya dirubah menjadi asrama putri. Pendirian tersebut berasal dari inisiatif Bapak Kyai Nawawi yang di dukung oleh masyarakat sekitar. Hal tersebut karena warga sekitar yang ingin memondokkan putri-putrinya. Pondok ini mulai menerima santri pada tahun 2008. Pada tahun 2015 tanah tersebut resmi diwakafkan.
Dinamakan Roudhotus Sholihat karena menyesuaikan nama pondok putra yang telah ada yaitu Roudhotus Sholihin. Pengurus umum antara santri putra dan santri putri sendiri-sendiri. Hal tersebut karena Pondok Roudhotus Sholihin dibawah naungan Yayasan Roudhotus Sholihin. Sedangkan pondok putri, Roudhotus Sholihat masih menginduk Pondok Roudhotus Sholikhin. Sampai sekarang pondok putri belum resmi menjadi bagian dari Yayasan Roudhotus Sholihin.
Sesampainya di dalam kamar, kami istirahat sekaligus berunding untuk kegiatan yang akan kami lakukan selama disini. Waktu sholat dhuhur pun tiba, kami bergegas ikut sholat jama'ah bersama santri putri. Awalnya bingung sholat jamaah dimana namun akhirnya kami diberitahu kalau sholat jamaahnya di lantai dua. Setelah sholat dhuhur, kami mencoba berbincang-bincang dengan salah satu santri. Saya bertanya tentang kegiatan apa yang biasa dilakukan setelah sholat dhuhur. Namun ternyata setiap hari Jum'at dan Minggu libur jadi di hari itu tidak ada acara mengaji. Meskipun begitu, di sore harinya kegiatan diisi dengan latihan Rabana untuk acara akhirusanah yang akan datang.
Karena tidak ada acara, kami pun kembali ke kamar. Kami mengeluh karena merasa lapar. Kami bingung karena kemarin ketika kami menanyakan tentang konsumsi, katanya disediakan dari pondok dan tidak dipungut biaya. Karena kami sudah tidak bisa menahan lapar, akhirnya 2 orang dari kelompok kai izin keluar untuk membeli nasi bungkus. Setelah makan bersantai sejenak sembari menunggu adzan Ashar. Di dalam peraturan pondok, sebelum waktu ashar santri diwajibkan untuk muraja'ah Al-Qur'an.
Dalam muraja'ah, semua santri fokus pada hafalannya masing-masing. Sebagian ada yang muraja'ah sendiri, namun ada juga yang saling simak menyimak. Setelah masuk waktu ashar, kami sholat berjama'ah bersama dengan di imami oleh Ibu Nyai. Selesai sholat, semua santri membaca surat Yasin bersama-sama. Selesai membaca, para santri antri untuk mandi dan kemudian latihan Rabana bagi yang senior. Sedangkan yang junior, kegiatannya mengaji kitab kurang lebih selama 1 jam.
Sekitar pukul 4 lebih 10 menit kami menuju tempat latihan rabana. Kami sangat menikmati isi kitab yang telah dibuat nyanyian. Kami pun ikut dalam membaca kitabnya meskipun tidak lancar. Awalnya, kelompok kami hanya mengamati kegiatan rabana saja, namun setelah sekitar 30 menit, kami baru mengetahui kalau ternyata ada dua kegiatan di waktu yang sama. Akhirnya kami memutuskan untuk membagi tugas, tiga orang mengamati kegiatan rabana dan yang dua orang mengamati kegiatan satunya yaitu madrasah atau mengaji kitab.
Jumlah santri yang termasuk ke dalam kelas senior terdapat sekitar 20 santri (laki-laki dan perempuan). Sedangkan santri junior sekitar 35 santri (laki-laki dan perempuan). Dalam kegiatan kelas junior, para santri belajar kitab Matnul Jurumiyyah dengan didampingi oleh seorang Ustad. Semua santri tampak berantusias dalam mempelajari kitab tersebut. Karena hari Minggu hanya sebagai jam tambahan, sehingga pukul 5 sore madrasah sudah selesai.
Setelah kegiatan selesai kami berunding kembali. Rundingan selanjutnya yaitu pembagian tugas untuk mengamati sekitar pondok putra dan mewawancarai Bapak Kyai Nawawi. Tiga orang mengobservasi pondok putra, sedangkan yang dua orang berkunjung ke rumah Bapak Kyai. Saya termasuk bagian dalam mengobservasi pondok putra. Disana kami sempat kebingungan, bingung karena kami akan bertanya tentang kegiatan santri putra kepada siapa. Sempat mau mencoba mewawancarai seorang santri putra, namun sebelum kami menghampiri santri putra tersebut alhadullillah ada seorang ustad yang menanyai kami. Kami pun mengutarakan maksud kami sekaligus memperkenalkan diri kami.
Akhirnya kami melakukan wawancara dengan ustad tersebut. Wawancara dilakukan di dalam ruang ustad. Di dalamnya terdapat 2 ustad, sehingga kami memiliki 2 narasumber. Hasil dari wawancara kami yaitu Pondok Roudhotus Sholihin berada di bawah pengawasan Yayasan Roudhotus Shokihin. Yayasan tersebut juga memiliki sekolahan yaitu SMK Batur I dan SMK Batur II, meskipun secara fisik tempatnya terpisah dengan pondoknya. Meskipun SMK dan pondok masih satu yayasan, namun santri yang ingin bersekolah dibebaskan untuk memilih sekolah di manapun.
Biaya pendaftaran masuk santri putra sebesar Rp.200000, sedangkan biaya madrasahnya Rp.50000. SPP pondok 25000/bulan, SPP madrasah 15000/bulan dan biaya shorogan Al-Qur'an sebesar Rp.10000/bulan. Shorogan Al-Qur'an merupakan membaca Al-Quran yang disimak oleh seorang ustad. Shoragan Al-Qur'an hukumnya wajib bagi semua santri baik putra maupun putri. Selain itu tidak ada lagi pungutan biaya apapun.
Untuk konsumsi sehari-hari, santri putra membeli makanan sendiri-sendiri. Tidak ada masak bersama ataupun dimasakkan. Ada acara masak bersama, namun hal tersebut hanya 2 minggu sekali saat acara kerja bakti. Pondok putra terdiri dari 33 santri. Di dalam pondok putra terdapat 6 kamar tidur, 4 kamar untuk santri umum dan yang 2 kamar untuk kamar pengurus. Santri putra yang sudah tidak sekolah, kebanyakan sambil bekerja. Mereka mayoritas bekerja di pabrik pengecoran, seperti pembuatan meja, pembuatan lampu, pembuatan tralis, pengecoran logam, dll.
Meskipun sambil bekerja, para santri tetap menjalankan kewajibannya sebagai santri. Mereka mendapat keringanan kerja. Hal tersebut karena pemilik pabrik merupakan salah satu ustad yang mengajar di Pondok Roudhotus Sholihin. Santri putra bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 11 siang. Kemudian, mereka pulang untuk jamaah sholat dhuhur sekaligus madrasah sampai jam 1 siang. Setelah itu mereka kembali lagi kerja di pabrik sampai jam 3 sore. Setelah itu mereka pulang ke pondok untuk jama'ah Sholat Ashar dilanjutkan melakukan rutinitas pondok sesuai jadwal yang telah dibuat.
Di tempat manapun pasti terdapat aturan yang wajib ditaati oleh anggota kelompoknya. Jika ada peraturan pasti ada ta'zir atau hukuman bagi anggota yang melanggarnya. Dalam peraturan santri putra, bentuk-bentuk ta'zir dibedakan menjadi 3 tingkatan. Tingkat pertama yaitu pelanggaran ringan. Pelanggara ini contohnya ketika ada seorang santri yang tidak ikut sholat jama'ah, maka santri tersebut akan dita'dzir lari mengelilingi lapangan. Banyaknya putaran tergantung banyaknya santri tersebut tidak ikut jama'ah selama 1 minggu.
Tingkatan kedua yaitu pelanggaran tingkat sedang. Contoh dari pelanggaran ini yaitu ketika santri keluar melebihi jam 11 malam. Sedangkan tingkatan yang terakhir yaitu tingkat berat. Contoh pelanggaran yang termasuk dalam kategori ini yaitu ketika santri putra ketahuan ketemuan dengan santri putri (lawan jenis) tanpa ada tujuan yang jelas. Pelanggaran ini dita'dzir dengan dipotong rambutnya sampai botak (khusus santri putra) dan diharuskan membaca istighfar sebanyak 1000X. Pada tingkatan ini kebanyakan para santri akan berujung dikeluarkan dari pondok.
Setelah saya dan teman saya mewawancarai ustad tersebut, kami pun pamit untuk kembali ke asrama putri. Karena waktu telah menjelang sholat maghrib akhirnya kami mempercepat langkah kami. Sesampainya di kamar, kami kaget sekaligus bersyukur karena di dalam kamar telah disediakan makanan lengkap dengan sayur dan lauknya. Sekarang kita sudah tidak khawatir lagi kalau saumpama nanti malam kita kelaparan.
Kami pun ikut jamaah Sholat Maghrib. Sebelum sholat, para santri membaca surat Yasin terlebih dahulu. Selesai membaca Yasin dilanjutkan Sholat Maghrib berjamaah. Aktifitas setelah maghrib yaitu mengaji Al-Qur'an di rumahnya Bu Nyai, khusus untuk santri yang sekolah. Sedangkan santri yang tidak sekolah biasanya muroja'ah atau menghafalkan Al-Qur'an untuk disetorkan pada waktu pagi menjelang siang saat santri lainnya bersekolah. Saat memasuki waktu isya' kami pun bergegas untuk ikut jama'ah. Namun saya sempat kecewa karena salah tempat. Ternyata khusus untuk Sholat Isya', tempatnya di Aula pondok bukan di lantai dua.
Berhubung hari tersebut minggu jadi mengaji kitabnya libur. Di malam itu kami berencana untuk main ke kamar pengurus. Namun sebelum kami merealisasikan rencana tersebut, kami kedatangan santri lain yang justru main ke kamar kami. Akhirnya kami berkenalan dan berbincang-bincang. Kami menikmati pembicaraan kami karena santri tersebut orangnya supel dan humoris. Akhinya kami tidak jadi pergi ke kamar pengurus, namun eskipun begitu kami tidak menyesal sama sekali.
Mungkin sekitar jam setengah 10 malam, saya naik ke lantai atas bergabung dengan santri yang sedang mengobrol disana. Saya berkenalan dengan santri-santri tersebut. Kami bercerita, bercanda, bahkan curhat juga. Setelah pukul 10 kami turun untuk tidur ke kamar masing-masing. Awalnya saya sempat kesusahan tidur, namun lama-lama tertidur dengan sendirinya.
Keesokannya, kami dibangunkan sebelum waktu subuh. Di waktu tersebut para santri disibukkan dengan sholat fajar, antri mandi untuk yang bersekolah, dan sebagian ada yang muroja'ah. Sehingga saat adzan subuh kami beserta santri sudah siap di dalam mushola untuk sholat jama'ah. Selesai jama'ah kami membaca surat Al-Waqiah bersama-sama. Aktifitas selanjutnya dimulai lagi jam setengah 6 yaitu mengaji kitab sampai jam setengah 7. Setelah itu, para santri yang bersekolah mulai berangkat sekolah sedangkan santri yang lainnya melakukan aktifitas biasanya, seperti mencuci, mandi, bersantai, dan muroja'ah.
Di pagi itu, kelompok saya main ke kamar santri yang masih ada di pondok. Mereka bertanya tentang aktifitas-aktifitas pondok dan saling bertukar cerita. Suasana di pagi tersebut sangat sepi, hanya tinggal 7 santri yang sudah tidak bersekolah. Kelompok kami pun bingung mau ngapain sehingga dari jam 9 sampai waktu dhuhur hanya berdiam diri di kamar. Selesai sholat dhuhur sebenarnya ada kegiatan mengaji kitab dari jam setengah 1 sampai jam 1, namun karena akan ada mata kuliah, sehingga kami langsung izin pamit pulang kepada pengurus. Setelah itu kami sowan ke rumah Bapak Kyai untuk memgucapkan terima kasih sekaligus pamit izin pulang.
Refleksi tentang studi Islam klasik di pesantren sangat baik. Disana diajarkan untuk mendalami berbagai kitab. Mereka dituntut untuk bisa mengerti Bahasa Arab. Metode pembelajarannya menggunakan kurikulum madrasah. Selain itu, strategi agar santri lebih mudah memahami dan menghafalkan pelajaran dengan metode nyanyian. Sehingga pelajaran pun mudah diterima oleh para santri. Selain itu, bagi pemuda yang ingin bekerja dari pihak pondok sudah memperbolehkan. Sehingg, selain mendapatkan ilmu akhirat juga kebutuhan dunianya terpenuhi.
Sedangkan refleksi untuk mahasiswa, ketepatan waktu di dalam pondok mengajarkan saya tentang arti kedisiplinan. Selain itu, kita harus pandai membagi waktu dalam segala hal. Hal tersebut bertujuan agar tidak bertabrakan antara kegiatan satu dengan kegiatan yang lainnya. Saya sungguh berterima kasih kepada dosen saya, Bapak Endy karean memberi tugas untuk live-in di pondok. Karenanya, saya memiliki pengalaman kerohaniahan secara real (praktek) bukan sekedar teori.


Komentar
Posting Komentar